Self-Diagnose, 'Baik' atau 'Buruk' bagi Kesehatan Mental?
Mendiagnosa diri sendiri atau yang lebih dikenal dengan Self-Diagnose merupakan proses dimana individu mengamati diri mereka sendiri berdasarkan gejala patologi dan mengidentifikasi penyakit atau gangguan tanpa adanya konsultasi medis (Aaiz Ahmad & Stefanus S., 2017). Self Diagnose, hal yang sedang booming belakangan ini karena masyarakat sudah mulai sadar akan kesehatan mental. Maka dari itu, banyak literatur terkait kesehatan mental yang beredear bebas di berbagai platform online.
Masyarakat mendapatkan akses informasi melalui internet dengan sangat mudah, namun diantara mereka ada yang menyalah-artikan bahwa informasi kesehatan yang kritis yang didapat tidak dapat diandalkan kebenarannya. World Wide Web memberikan informasi kesehatan yang berlimpah dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengakses informasi terkait kesehatan dari rumah masing-masing. Namun, kemampuan untuk mendiagnosa bagi para pembaca masih belum memenuhi syarat untuk melakukan diagnosis.
Kekhawatiran yang muncul adalah dengan adanya literatur yang tersebar luas yang berdampak bukan membantu para pembaca, namun memperburuk keadaan para pembaca. Tak hanya kesehatan medis, kesehatan mental juga menjadi sangat berbahaya apabila pembaca literatur tidak memenuhi syarat untuk melakukan diagnosa secara mandiri. Menurut penelitian yang tertulis di sebuah jurnal internasional karya Aaiz Ahmed & Stephen S. menjelaskan beberapa penyebab, metode, serta efek self-diagnosis, yang ada hubungannya dengan kematangan akademik.
Penyebab Self-Diagnose
Kita kadang tidak tau bagimana self-diagnose bisa terjadi, bahkan kita sendiri tidak tau apa yang membuat kita mendadak berfikir “apakah saya mengalami ‘social anxiety disorder’?” berikut beberapa penyebab self-diagnose.
Latar Belakang Klinis
Pengetahuan terkait keilmuan tersebut adalah salah satu faktor yang menyebabkan self-diagnose. Paparan berbagai patologi serta proses diagnosis merupakan acuan utama pada penyebab kasus ini, baik secara teori maupun praktek.
Pengalaman Hidup Sebelumnya
Kejadian masa lalu dapat membuatnya menjadi acuan untuk mendiagnosa dirinya sendiri di masa sekarang. Memori lama akan terulang apabila ia melihat sebuah tanda bahwa ia mengalami gangguan pada masa lampaunya.
Sumber Lain
Internet/Literatur digital menjadi sumber lain adanya self-diagnose di masyarakat. Di sumber ini tak hanya pengalaman hidup yang bisa menjadi acuan untuk self-diagnose, mleainkan media mengenai gangguan kesehatan mental dapat memicunya.
Metode Self-Diagnose
Self-diagnose memiliki beberapa faktor yang datang dari intrapersonal dan ada juga pengaruh dari lingkungan atau interpersonal. Berikut beberapa faktornya:
Sumber/Faktor Intrinsik
Pemikiran skematis adalah faktor intrinsik yang paling sering muncul. Karena skema dalam psikologi kognitif adalah konsep yang “menggambarkan pola pemikiran atau perilaku yang terorganisir yang mengatur kategori informasi dan hubungan di antara mereka” (DiMaggio, 1997).
Sumber/Faktor Ekstrinsik
Literatur psikologis, sumber online dan kasus psikopatologi kehidupan nyata. 3 hal tersebut menjadi sumber utama dari unsur ekstrinsik. Dan hal yang paling kita sering temui adalah sumber literatur online yang digunakan untuk self-diagnose atau yang lebih dikenal Online Self-Diagnose, sering terjadi di kalangan pemuda yang sedang mengalami quarter life crisis.
Efek Self-Diagnose
Dengan adanya self-diagnose, maka dari itu timbulah beberapa efek positif dan efek negatif (yang dibagi menjadi efek kognitif, afektif dan perilaku). Beberapa efek self-diagnose dapat dikatakan dapat mengganggu kesehatan mental karena dapat berpengaruh pada kehidupan keseharian mereka.
Efek Negatif
Efek negatif drai self-diagnose cukup krusial dalam kehidupan sehari-hari, berikut beberapa efek negatif dari self-diagnose:
- Efek Kognitif
- Efek Afektif
- Efek Perilaku
Efek Positif
Ternyata self-diagnose juga memiliki beberapa efek positif yaitu:
- Meningkatnya rasa keingintahuan tentang hal tersebut
Efek kognitif juga bisa dijadikan efek positif karena bisa dijadikan sebagai pacuan akademis yang ingin tau lebih mengenai hal tersebut yang disebabkan oleh self-diagnose.
Menurut salah satu responden survei Aaiz Ahmed dan Stefanus S. yang berinisial CJ mengenai apakah hal tersebut baik untuk mahasiswa psikologi, “Tergantung bagaimana adnda melihatnya. Hal tersebut membantu saya untuk mempelajarinya. Tetapi, apabila pada akhirnya membuatku tertekan, maka tidak akan kupelajari” begitu jawab CJ.
- Meningkatnya rasa empati
Empati akan timbul bagi mereka yang self-diagnose kepada para penderita kesehatan mental tersebut. Namun, rasa empati ini seringnya ditemui pada mahasiswa psikologi yang memang khusus mempelajari terkait kesehatan mental.
- Terprovokasi untuk mencari bantuan klinis
Dengan adanya self-diagnose dapat memprovokasi untuk mencari bantuan kepada pihak yang lebih profesional agar mereka tidak meragukan diagnosis diri yang mereka lakukan.
Kematangan Akademik
Kematangan akademis merupakan bagian yang menentukan bagaimana respon masyarakat yang melakukan self-diagnose. Beberapa faktor penentu bahwa ia sudah mempunyai kematangan akademik yaitu:
Penolakan untuk menerima hasil tes online secara mentah-mentah
Kuisioner online sudah sangat banyak kita temukan secara online, namun bagi beberapa orang tes online tersebut tidak memiliki kemampuan diagnostik yang memenuhi syarat untuk dijadikan sumber utama mendeskripsikan kesehatan mental.
Kejelasan diagnostik
Beberapa orang sudah cukup berpengalaman mendiagnosis yang membuat bahwa gejala mereka tidak cukup untuk mereka menderita penyakit/gangguan kesehatan mental tersebut. Hal ini dapat diperoleh dengan adanya pengalaman yang mempelajari ilmu diagnosis.
Persepsi morbiditas yang rendah
Terlalu memikirkan masa depan atas apa yang terjadi sekarang akan membuat self-diagnose saat ini dapat menyebar ke berbagai hal yang seharusnya tidak terpengaruhi oleh hal tersebut. Dengan persepsi morbiditas yang rendah, maka seseorang dapat berpikir lebih jernih untuk melakukan self-diagnose.
Investigasi Akademik
Rasa ingin tahu yang mendalam akan suatu hal akan membuat banyak pandangan terhadap informasi yang ia terima. Maka dari itu, seseorang akan berpikir lebih jernih ketika mengetahui berbagai pandangan akan suatu hal yang ia pelajari.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah, Self-Diagnose disebabkan karena beberapa faktor distal dari pengalaman sebelumnya dan faktor proksimal dari pengetahuan klinis. Peran gaya mengajar yang baik dalam mendorong atau menghentikan siswa dari self-diagnose atau menanamkan kedewasaan akademik pada siswa yang dapat dipelajari (Aaiz Ahmed & Stefanus S., 2017). Dan pengalaman dari orang lain yang memiliki berbagai latar belakang kehidupan dapat menjadikan sebab efek negatif dari self-diagnose muncul.
Daftar Pustaka
Ahmed A., Stefanus S. (2017). Self-Diagnosis in Psychology Students. The International Journal of Indian Psychology, 4(2). doi: 10.25215/0402.035
Gass M. A. (2016). Risks and Benefits of Self-Diagnosis Using the Internet. Honor Theses. 96. https://digitalcommons.salemstate.edu/honors_theses/96
Artikel yang sangat bermanfaat.. terimakasih
BalasHapusTerima kasih kembali
HapusNambah wawasan nich artikel bagus dan bermanfaat
BalasHapusTerima kasih
Hapus